Tag Archives: WHO

Waspada Daging Olahan Dapat Menyebabkan Kanker

Dewasa ini banyak sekali daging yang diolah sedemikian rupa, baik itu untuk memperpanjang masa kedaluwarsa atau untuk mengubah rasa. Karena hal tersebut organisasi kesehatan dunia WHO memasukan daging oleh sebagai kandungan yang kemungkinan menyebabkan kanker.

Waspada Daging Olahan Dapat Menyebabkan Kanker

“Risiko untuk terkena kanker usus besar akibat mengonsumsi daging olahan relatif kecil, tapi risiko ini meningkat sesuai dengan jumlah yang dikonsumsi,” kata Dr Kurt Straif dari WHO. Dan setiap tahunnya kanker yang disebabkan daging olahan dalam porsi tinggi merenggut jiwa 34.000 orang di dunia.

Namun, daging merah menurut WHO kemungkinan dapat sebabkan kanker. Jadi, daging merah hanya sebatas dicurigai, karena WHI belum memiliki bukti pendukung klaim ini.

 

Walaupun demikian, menurut organisasi Inggris, Cancer Research, tidak semestinya kita menghentikan konsumsi daging olahan. Para peneliti di organisasi tersebut memberikan penyataan bahwa “sesekali memakan sandwich bacon tidak akan berdampak buruk terhadap kesehatan”.

Mengapa bisa demikian?

International Agency for Research on Cancer (IARC), lembaga riset kanker di bawah WHO, mengelompokkan nitrat dan nitrit ke dalam “kemungkinan karsinogen pada manusia” karena saat daging yang memiliki kandungan zat itu digoreng atau dibakar di suhu tinggi, bisa berubah menjadi N-nitroso, seperti nitrosamin, yang memang bersifat karsinogen.

Bahkan walau nitrosamin belum terbentuk saat daging digoreng, bisa saja pembentukannya terjadi di dalam lambung. Zat asam di dalam lambung ternyata cukup untuk mengubah pengawet ini menjadi nitrosamin. Penelitian pada tikus menyimpulkan, nitrosamin dari daging berperan besar pada terjadinya kanker usus. Pengamatan pada manusia juga menunjukkan orang yang sering mengonsumsi daging yang diproses memiliki insiden kanker lambung, esofagus, dan kanker usus, lebih besar.

Baca juga: 7 Cara Untuk Mengurangi Risiko Kanker

Jangan tertipu oleh pernyataan di kemasan. Bahkan daging yang ditulis “alami” atau “organik”, termasuk yang mengklaim “tanpa tambahan nitrat atau nitrit”, bisa memiliki kandungan nitrit yang sama tingginya.

Penambahan bubuk seledri atau jus seledri sebagai alternatif nitrit sintetis juga sering dilakukan. Seledri memang secara alami tinggi kandungan nitrat, yang ketika diperlakukan dengan kultur bakteri, memproduksi nitrit. Walau secara teknis alami, tapi nitrit itu identik dengan versi sintetisnya.

Sumber: kupang.tribunnews.com